Santri Adalah Tokoh Penting Dalam Kemerdekaan Indonesia

Pada tahun ini, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas telah merilis tema dan logo Hari Santri Nasional 2022. Sumber Artikel berjudul "TEKS Ikrar Santri Indonesia yang Dibaca Saat Upacara Hari Santri Nasional 22 Oktober 2022 Nanti", selengkapnya dengan link: https://portalkudus.pikiran-rakyat.com/lifestyle/pr-795719787/teks-ikrar-santri-indonesia-yang-dibaca-saat-upacara-hari-santri-nasional-22-oktober-2022-nanti?page=2.

27 Tokoh Penting Nahdlatul Ulama

Dalam mengemban amanat sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, NU telah melahirkan banyak tokoh besar. Di bawah ini diantara tokoh-tokoh yang ikut berperan penting dalam NU.

Minggu, 09 Juni 2024

Bab Kalam


بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ

قَالَ اَلْمُصَنِّفُ -رحمه اَللَّهُ –: أَنْوَاعُ اَلْكَلَامِ

اَلْكَلَامُ : هو اَللَّفْظُ اَلْمُرَكَّبُ، اَلْمُفِيدُ بِالْوَضْعِ

Muqoddimah Babul Kalam


“Kalam adalah lafaz yang tersusun dan yang menunjukkan makna lengkap.”
Saya berkata: Lafaz “Kalam” mempunyai dua makna, pertama makna secara bahasa dan kedua makna secara istilah ilmu Nahwu.

Adapun “Kalam” secara bahasa adalah sesuatu yang boleh menghasilkan faedah kefahaman, sama ada ia berupa lafaz atau selain lafaz seperti tulisan dan isyarat. 

Manakala “Kalam” menurut istilah ilmu Nahwu, maka ia harus memenuhi empat syarat, iaitu:

1. Lafadz

Yang dimaksud dengan lafadz adalah suara/ucapan lisan yang mengandung huruf hijaiyah. Misalnya lafadz “kitaabun” (كتاب), “masjidun” (مسجد) dan “Zaidun” (زيد).

Lafadz-lafadz tersebut merupakan ucapan lisan yang mengandung huruf hijaiyah.

Beda dengan suara klakson, suara gemercik air, dan suara-suara yang tidak mengandung huruf hijaiyah maka itu tidak termasuk lafadz. Dan jika bukan lafadz, maka tidak bisa disebut kalam.

Lafadz terbagi dua. Ada lafadz muhmal dan ada lafadz musta’mal.

Lafadz muhmal, adalah lafadz yang tidak berguna, yakni ucapan lisan yang mengandung huruf hijaiyah tapi tidak terpakai. Contoh kita secara ngasal berucap “Jajaban juba” (ججبن جوبا) atau “daizun” (ديز) yang entah apa artinya.

Ucapan tersebut termasuk lafadz karena merupakan suara lisan yang mengandung huruf hijaiyah. Hanya saja, lafadz tersebut tergolong lafadz muhmal, karena tidak dipakai dan tidak pula memiliki arti.

Lafadz musta’mal, adalah lafadz yang berguna, yakni ucapan lisan yang mengandung huruf hijaiyah dan digunakan. Contohnya lafadz “kitaabun” (كتاب), “masjidun” (مسجد) dan “Zaidun” (زيد).

Lafadz-lafadz tersebut biasa digunakan dalam percakapan. Kitaabun diucapakan merujuk pada buku, masjid merujuk tempat ibadah dan Zaid adalah nama orang.

2. Murakkab (Tersusun)

Murakkab adalah sesuatu yang tersusun dari dua susunan kata atau lebih. Sehingga bila suatu lafadz hanya terdiri dari satu kata, maka lafadz tersebut bukan murakkab.

Contoh murakkab:

زَيْدٌ قَائِمٌ

Artinya: “Zaid adalah yang berdiri”

Kalimat “zaidun qoimun” (زَيْدٌ قَائِمٌ) merupakan murakkab karena tersusun dari dua kata, yakni kata زيد dan kata قائم.

Apabila hanya زيد saja atau قائم saja, maka itu bukan murakkab karena tidak tersusun. Dan jika bukan murakkab, maka tidak bisa disebut kalam.

Adapun murakkab yang menjadi syarat kalam adalah murakkab isnadiy, bukan murakkab tarkib majzi dan murakkab idlofiy. (Pembahasan tentang murokkab insyallah akan dibahas di postingan khusus).

3. Mufid (Memberi Faidah)

Mufid artinya ucapan yang memberi faidah/ makna. Sehingga seseorang yang mendengar ucapan tersebut tidak mempertanyakan dan tidak penasaran lagi mendengarnya. Dan bisa diam dengan nyaman.

Contoh mufid,

زَيْدٌ قَائِمٌ

Artinya: “Zaid adalah yang berdiri”

Ucapan di atas mufid. Karena sudah memberikan makna dengan susunan sempurna.

Contoh ucapan yang tidak mufid:

اِنْ قَامَ زَيْدٌ

Artinya: “Jika zaid berdiri,”

Ucapan di atas tidak mufid karena tidak memberikan makna sempurna. Sebab dalam ucapan tersebut terkandung kata “in” (اِن) yang artinya “jika”. Dimana “in” termasuk huruf syarat yang membutuhkan jawab. Biasanya jawabnya memiliki arti “maka”.

Sedangkan di sini jawabnya tidak ada. Sehingga maknanya menjadi nanggung. Orang yang mendengar ucapan tersebut akan penasaran dan tidak nyaman.

Oleh karena itu lafadz اِنْ قَامَ زَيْدٌ tidak mufid, sehingga tidak bisa disebut kalam.

4. Bil Wadl’i

Adapun bil wadh’i (بالوضع) sebagian ulama menafsirkannya sebagai (بالقصد), yakni kata dengan memiliki maksud atau tujuan. Maka perkataan orang yang tidur dan ngelantur tidak dinamakan kalam menurut ulama nahwu.

Sebagian lain menafsirkan bil wadh’i (بالوضع) sebagai (بالعربي), yakni kata dengan bahasa arab.

Maka perkataan orang ‘ajam atau perkataan yang bukan bahasa Arab seperti bahasa Turki, Barbar tidak dinamakan kalam menurut ulama nahwu.

Berikut ini contoh kalam yang sudah memenuhi empat syarat (Berupa lafadz, murakkab, mufid dan bil wadl’i) adalah sebagai berikut:

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

Artinya, “Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.”

Ucapan di atas merupakan kalam karena sudah memenuhi 4 syarat, yakni (1) lafadz, berupa ucapan yang mengandung huruf hijaiyyah, (2) murakkab, karena tersusun dari beberapa kata, (3) mufid, karena memberi faidah berupa makna sempurna, dan (4) bil wadl’i, berupa bahasa arab.





BIOGRAFI PENGARANG KITAB AL-AJURUMIYYAH



Nama lengkap pengarang kitab tersebut adalah Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Al-Shinhâji (dengan mengkasrahkan huruf Shod, bukan dengan memfathahkannya seperti yang sering disebutkan oleh sebagian kalangan). Menurut riwayat Al-Hamîdi, kalimat Al-Shinhâji ini berasal dari salah satu kabilah yang berada di Maroko, yaitu kabilah Shinhâjah. Nama ini kemudian dikenal sebagai Ibnu Ajurrûm.

Dalam kitab Syadzaratudz Dzahab karya Ibnu Imad, disebutkan bahwa beliau dilahirkan di Kota Fes pada tahun 672 H. Beliau wafat pada hari Senin setelah zuhur tanggal 20 Safar tahun 723 Hijriah (pendapat Imam Ibnul Hajj, Imam Al-Halawi, Imam Ibnul Imad). Imam Ibnul Hajj berpendapat bahwa makam Syekh Ibnu Ajurrum berada di Babul Jizayn yang saat ini bernama Babul Hamro’ (Gerbang Merah) Kota Fes, Maroko.

Pada awalnya beliau menuntut ilmu di Kota Fes, kemudian melanjutkannya di Kairo bersama seorang ulama nahwu terkenal bernama Abû Hayyân Al Andalusi (pengarang kitab Al-Bahru Al-Muhith). Kemudian beliau mendapat restu dan mengajar ilmu tata bahasa Arab atau ilmu nahwu di kota yang sama. Di antara karyanya yang terkenal adalah kitab Farâ’id Al-Ma’âni fî Syarhi Hirzi Al-Amâni dan kitab Al-Muqaddimah Al-Ajurrûmiyyah. Selain ahli dalam ilmu nahwu, beliau juga merupakan ahli fikih, matematika, tajwid, dan juga menggeluti ilmu seni lukis, kaligrafi, dan sastra.

Terdapat beberapa peristiwa menarik dalam proses penulisan kitab al-Ajurumiyyah ini. Disebutkan dalam kitab Hasyiyah al-hamidi ala Syarh al-Kafrawi (حاشية الحامدي على شرح الكفراوي) bahwasanya ketika pengarang berada di depan Ka’bah, kitab ini terbang tertiup angin, kemudian beliau berucap:

اللّهمّ إن كان خالصًا لوجهك فردّه عليّ

“Wahai Allah, jikalau buku ini ikhlas (dikarang) murni karena mengharap keridhaan-Mu, maka kembalikanlah ia kepadaku.”

Selain itu, diceritakan bahwa ketika Syeikh ash-Shinhaji telah menyelesaikan kitabnya, lantas ia melemparkannya ke laut sambil berkata:

ان كان خالصا لله فلا يبل

“Wahai Allah, jikalau buku ini ikhlas (dikarang) murni karena mengharap keridhaan-Mu, maka ia tidak akan basah.”

Kemudian hal itu menjadi kenyataan, kitab tersebut kembali ke pinggir pantai dan tidak basah (dalam kitab Hasyiyah al-hamidi ala Syarh al-Kafrawi (حاشية الحامدي على شرح الكفراوي).

Penulis sendiri secara pribadi berkesempatan berziarah ke makam beliau di Kota Fes, Maroko. Akan tetapi, sangat sulit untuk menemukan makam yang dimaksud dan hingga saat ini masih menjadi perdebatan karena tidak ada riwayat atau bukti kuat yang bisa dipercaya.

Pada tahun 2017, didasari keinginan berziarah ke makam pengarang kitab al-Ajurumiyyah yang telah dipelajari sejak kelas enam Madrasah Dinniyah, untuk pertama kalinya penulis mencoba mengunjungi makam yang dimaksud. Akan tetapi, tidak satu pun mahasiswa Indonesia di sana yang mengetahuinya.

Di tahun berikutnya, penulis mencoba melakukan hal yang sama setelah bertanya kepada masyarakat dan penduduk di sekitar Bab Futuh (wilayah Kota Fes yang banyak terdapat makam para ulama dan wali). Namun, sayang jawaban yang diharapkan masih belum juga didapatkan.

Setelah bertanya ke berbagai pihak, informasi akhirnya didapatkan dari seorang penjaga Zawiyah Darqowiyah bernama Sidie Marwan. Penulis berkesempatan mengunjungi tempat yang beliau maksud pada musim panas tahun 2019. Makam tersebut berada di samping jalan raya wilayah Bab Hamro. Sangat disayangkan keadaan makam tersebut benar-benar tidak terawat. Berada di samping tempat pembuangan sampah dan dikelilingi oleh rumah penduduk, makam ini tidak terlihat seperti makam para ulama yang seharusnya dimuliakan. Lokasinya yang menyendiri juga membuatnya semakin luput dari pandangan dan sulit untuk ditemukan.

Meski begitu menurut cerita orang-orang sekitar, makam Ash-Shinhaji telah lama digusur dan dipindahkan. Hingga saat ini tidak ada yang mengetahui secara pasti di mana makam tersebut berada.

Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Al-Shinhâji adalah seorang ulama besar asal Kota Fes yang merupakan pengarang kitab Muqaddimah Al-Ajurrumiyyah yang terkenal di kalangan pesantren di Indonesia. Setelah mencoba beberapa kali dan mengumpulkan informasi dari berbagai pihak, penulis berkesempatan berziarah ke makam yang dipercaya merupakan makam dari ulama hebat tersebut. Letaknya yang terpencil dan keadaannya yang tidak terawat membuat siapa pun yang mengenalnya akan sedih melihatnya. 


Editor : Muhammad As'at Syamsul Arifin

Al-Ajurumiyyah



Gambar:Sampul kitab Al-Ajurumiyah

Al-Ajurrumiyah atau Jurumiyah atau Aajurroom[1](bahasa Arabالآجُرُّومِيَّة) adalah sebuah kitab kecil tentang tata bahasa Arab dari abad ke-7 H/13 M. Kitab ini disusun oleh ahli bahasa dari Maroko yang bernama Muhammad bin Muhammad bin Dawud, Abu Abdillah Ash Shinhaji/ Ash Shonhaji Al-Fasy An-Nahwi Al-Faqih Al-Muqri’ Al Maliki alias Ibnu Ajurrum (w. 1324 M).[2] Rumus-rumus dasar pelajaran bahasa Arab klasik ditulis dengan bentuk nasr atau prosa. Di lingkungan masyarakat Arab kitab ini menjadi salah satu kitab awal yang dihapalkan selain Al-Qur'an.[3]

Deskripsi

Di kalangan pesantren tradisional, Kitab Matan al-Ajurrumiyyah merupakan textbook tentang ilmu nahwu (gramatika Bahasa Arab) yang sangat terkenal. Hampir setiap santri yang menimba ilmu di pesantren tradisional mengawali pelajaran tentang bahasa Arab melalui kitab ini. Kitab ini merupakan kitab standar yang merupakan dasar dari pelajaran bahasa Arab. Dalam praktiknya di dunia pesantren, kitab tersebut sering disebut dengan nama Jurrumiyyah. Penamaan tersebut tidak persis sama dengan nama asli kitab tersebut, karena judul lengkap kitab tersebut adalah al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah fi Mabadi’ Ilm al-Arabiyyah.

Meski al-Ajurrumiyyah begitu terkenal di kalangan pesantren, tetapi si pengarang kitab itu sendiri tidak begitu dikenal di kalangan pesantren. Hal itu karena dalam praktiknya di pesantren, santri sering kali hanya disodori tentang pelajaran yang terkandung dalam kitab yang sedang dipelajari. Santri jarang diperkenalkan oleh sang kyai atau ustaz dengan si pengarang kitab yang sedang mereka pelajari. Hal itu wajar juga karena sang kyai atau sang ustaz sendiri belum tentu mengenal betul siapa si pengarang kitabnya.

Sesuai namanya, al-Ajurrumiyyah memang kitab muqaddimah (pengantar) tentang ilmu nahwu yang ditulis oleh Ibnu Ajurrum saat berada di Mekkah. Isinya sangat simpel dan mendasar. Karena itulah, kitab ini pun perlu diberi penjelasan yang lebih mendalam saat seorang santri hendak mempelajari ilmu nahwu lebih lanjut. Dengan alasan itulah, kitab ini akhirnya banyak diberi penjelasan oleh banyak ulama, hingga mencapai tiga puluh buku penjelasan. Penjelasan-penjelasan tersebut kelak dijadikan satu kitab dengan al-Ajurrumiyyah. Dalam kepustakaan bahasa Arab, kitab-kitab yang berisi penjelasan terhadap sebuah kitab yang lain disebut dengan istilah kitab syarah.

Selain diberi penjelasan atau ulasan, kitab al-Ajurrumiyyah juga diringkas oleh ulama-ulama lain menjadi untaian bait (nazham). Tidak kurang dari empat kitab yang memuat untaian bait yang bersumber dari kitab al-Ajurrumiyyah ini. Kitab untaian bait yang paling terkenal adalah yang dikarang oleh Muhammad bin Abi al-Ghalawi atau yang dikenal dengan nama Ubaid Rabbih.

Kitab penjelasan

Di antarakitab yang menjabarkan matan Al-Ajurumiyah ini di antaranya:

  • Tuhfatus Saniyah syarh Muqoddimah al-Ajurumiyah yang ditulis oleh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid Al-Mishri.
  • Al-Mutammimah al-Ajurumiyah yang ditulis oleh Muhammad bin Muhammad Ar-Ra'ini.
  • Al-Kawakib ad-Durriyah syarah Mutammimah al-Ajrumiyah yang ditulis oleh Muhammad bin Ahmad Al-Ahdal.[4]
  • Syarh Al-Aajurumiyah Li Al-Utsaimin yang ditulis oleh Syekh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin
  • An-Nashihah As-Saniyyah Li Thullab Hall Al-Ajurrumiyyah karya Syaikh ‘Ali Al-Anshari.
  • Syarh Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiyyah karya Syaikh Abdurrahman bin Ali Al-Makkudi An-Nahwi (wafat tahun 807 H).[5]

    Referensi

    1. ^ https://rumaysho.com/34832-siapakah-penulis-jurumiyah-penulis-buku-nahwu-yang-terkenal-itu.html Diakses tanggal 12 Februari 2023
    2. ^ Wadi, Masriyah Sunada (2022-01-31). "Syekh Shinhaji: Biografi Pengarang Kitab al-Ajurumiyyah dan Makamnya Saat Ini"Al-Tsaqafah. Diakses tanggal 2023-05-17.
    3. ^ Eickelman, D. F. (1992). Knowledge and Power in Morocco: The Education of a Twentieth-Century Notable. Princeton: Princeton University Press, p. 56
    4. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-04-07. Diakses tanggal 2014-04-06.
    5. ^ "Resensi Matan Jurumiyah" (dalam bahasa Inggris). 2023-07-09. Diakses tanggal 2023-07-13.


    Editor : Muhammad As'at Syamsul Arifin